Posted by: anfuture | 21 September 2009

TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADAR DAN KOREKSI TERHADAPNYA

Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Yang benar tanda-tanda malam lailatul qadar yang pernah disebutkan oleh hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam paling tidak ada empat yang dapat kita ketahui bersama meskipun tanda-tanda tersebut tidak harus ada. Diantaranya:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari ubay bin ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

Referensi: Majalah Adz-Dzakiroh edisi khusus Ramadhan-Syawal 1429 Hal. 27-28

Sumber: maramissetiawan.wordpress.com

Posted by: anfuture | 16 September 2009

1 Syawal 1430H

Kadang kata merangkai dusta…
Kadang tingkah menoreh luka…
Kadang hati penuh prasangka…

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah ada
Tuk khilaf berbuah lara
Tuk dusta yg sempat terucap

Terselip khilaf dalam candaku,
Tergores luka dalam tawaku,
Terbelit pilu dalam tingkahku,
Tersinggung rasa dalam bicaraku.
Hari kemenangan telah tiba,
Semoga diampuni salah dan dosa.
Mari bersama bersihkan diri,
sucikan hati di hari Fitri.

Semoga kita dapat menemukan jati diri
Memperoleh ampunan dan ridho Illahi
Dan kelak mendapat kenikmatan surgawi

Satukan tangan, satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di hari kemenangan kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan

Tiada gembira yang menggelora,
tiada senang yang mengangkasa,
selain kembali pada fitrah dan ampunan-Nya.

Andai jemari tak sempat berjabat,
Jika raga tak bisa bersua,
Menyambung kasih, merajut cinta,
beralas ikhlas, beratap doa.
Semasa hidup bersimbah khilaf,
berharap diri dibasuh maaf.

I met Iman, Taqwa, Patience, Peace, Joy, Love, Health & Wealth today.
They need a permanent place to stay.
I gave them your address.
Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
Hope they arrived safely to celebrate Idul Fitri with you.
May Allah bless you and your family.

Segenap Keluarga Besar
Umar Junaedi dan Sri Ambar Wiyanti
Mengucapkan:

Taqobalallahu minnaa wa minkum
Shiyamanaa wa shiyamakum
Minal ‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan bati
n

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1430 H

Posted by: anfuture | 3 September 2009

Mendongeng Yuk…..

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Rekan Sahabat ….

Pernahkah Anda merasa nggak ‘nyambung’ dengan anak?
Kalau pernah, ternyata wajar lho, karena katanya nih… pola pikir,
pengalaman, dan cara pandang anak sangat berbeda dengan orang
dewasa, makanya kita sering merasa kesulitan masuk ke dunia mereka.

Anak-anak mempunyai daya imajinasi dan daya kreatif yang sangat
tinggi. Menurut sebagian ahli, imajinasi dan kreativitas anak mulai
meningkat pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia
lima tahun. Sementara kita orang dewasa telah mengalami
penurunan pada kedua hal tersebut, makanya dunia kita ‘nggak
nyambung’, sehingga komunikasi pun kadang sulit.

Tapi ada satu cara agar komunikasi kita dengan mereka efektif meski
dunianya berbeda, yaitu dengan… mendongeng…! Mengapa…?
Karena dongeng memiliki unsur imajinasi dan kreativitas yang
tinggi… Hal ini sesuai dengan sifat anak-anak yang selalu ingin
berekspresi. Imajinasi dan kreativitas mereka tersalurkan melalui
dongeng. Sehingga saat kita mendongeng saat itulah dunia kita
dengan mereka nyambung :-)….

Manfaat lain lagi dari mendongeng adalah melatih daya konsentrasi
anak, waktu mendengarkan dongeng anak-anak melatih kemampuan mereka
memusatkan perhatian beberapa waktu terhadap obyek tertentu. Ini
umumnya terjadi pada usia tiga atau empat tahun. Saat usia tersebut
mereka masih sulit memperhatikan dan mengontrol emosi.

Ada kalanya anak menyela pembicaraan, sering bertanya, dan tidak
sabar menunggu puncak cerita. Ketidaksabaran tersebut antara lain
disebabkan saat mendengar cerita mereka sibuk berimajinasi.

Dongeng juga adalah cara belajar yang menyenangkan lho…
Dongeng itu sesuatu yang manusiawi, karena… dongeng menggunakan
mata, pendengaran, gerak dan hati juga ikut merasakan. Mendongeng
berarti menghargai indra-indra pendengarnya.

Kalau indra-indranya dihargai, pesan-pesan akan mudah masuk.
Apalagi dengan cara-cara yang menyenangkan, yaitu cara bercerita
yang sesuai dengan kebutuhan indranya. Kalau tidak sesuai dengan
kebutuhannya, pesan-pesan itu juga tidak akan masuk…

Cerita yang menyenangkan tidak harus cerita
yang lucu, cerita yang sedih pun bisa jadi menyenangkan.
Menyenangkan tidak harus dengan tertawa, sesuatu yang nyambung dan
bermanfaat bisa jadi menyenangkan dan menenteramkan….

Nah, sebagian orang tua yang sibuk sering kali merasa
tidak sempat mendongeng. Bayangkan saja, sudah capek ngantor
seharian, terjebak macet pula, sampai rumah sudah nggak ada tenaga.
Waktu anak menyerbu dengan girang, kita sibuk menghalau,”Sana dulu
yaa… Papa/Mama lagi capek mau istirahat dulu…!” Padahal si anak
sudah menunggu-nunggu kita seharian nih….

Kata Kak Andi Yudha, penulis buku “Cara Pintar Mendongeng”,
anak-anak itu berhak mendapat hadiah dari kita, salah satu
hadiahnya bisa berupa….dongeng…! Menurut beliau dalam bukunya,
ternyata mendongeng itu nggak harus lama. Anak tidak pernah
menuntut dongeng yang panjang atau sempurna ala orang dewasa. Asal
mereka tahu orang tuanya mau berbagi, sambil lalu pun, sudah cukup
bagi mereka. Yang terpenting, bagaimana kita memberikan apa yang
kita rasakan dan anggap penting dengan sungguh-sungguh.

Dengan kesadaran itu, biasanya akan lahir pencerita yang khas. Anak
akan selalu menanti dan berkata,”Aku mau dengan cerita Papa,”
karena baginya ayahnya adalah segalanya, panutan, dan harapan yang
dapat dipercaya.

Dongeng yang kita ceritakan kepada anak ketika mereka masih kecil
akan sangat bermanfaat ketika dia mulai beranjak besar. Cerita yang
pernah didengar akan terekam dalam otak mereka. Itu yang dinamakan
proses pendidikan. Jadi, tingkah laku mereka tidak langsung
berubah, tetapi mengendap dalam alam pikiran sehingga ketika ada
peristiwa yang mirip-mirip dengan cerita, ingatan tentang hal itu
akan keluar. Itu yang membuat orang banyak info dalam hidupnya,
karena banyak cerita….

Jadi Mama-Papa, Ayah-Ibu, meski capek, mendongeng yaa….. lima
meniiiit aja…

Jadi….
Sudahkah kita mendongeng hari ini?……..

Posted by: anfuture | 1 September 2009

SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat
beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi, doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,”jawab malaikat yang
satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara- gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.
“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”.
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.” Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia
mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”
“Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…

Posted by: anfuture | 1 September 2009

BETAPA HEBATNYA OTAK ANAK KITA

gambar-otak

Satu hal sering kita lupakan, Allah, menitipkan komputer Super
Hebat di kepala anak kita! Yup, komputer itu bernama OTAK.
Menjelang kelahiran, anak kita memiliki 100 miliar sel otak aktif
(neuron), yang memiliki sekitar 50 triliun sambungan dengan sel
otak lain, serta 1 triliun sel glia/perekat (melindungi dan memberi
makan neuron). Cabang-cabang yang disebut dendrit itu terhubung
dengan sel-sel lain dengan mengirimkan pesan-pesan elektris kimiawi.

Selama tahun-tahun pertama kehidupan, otak mengalami perubahan yang
luar biasa, tapi kegiatan neuron tersebut tidak spontan lagi,
melainkan digerakkan oleh hasil pengalaman indra. Dalam bulan-bulan
awal, perkembangan otak bayi sangat menakjubkan : setiap detik sel
otak menghasilkan 3 miliar cabang!
Menjelang usia 8 bulan, otak bayi memiliki 1000 triliun
sambungan….
Menjelang usia 10 tahun banyak sambungan otak yang mati namun masih
meninggalkan 500 triliun sambungan. Ck…ck…ck… banyak amat…..

Kapasitas otak anak kita awalnya hampir sama dengan otak seorang
manusia jenius lho…. Dan otak manusia nih, mampu menampung
informasi yang ada di 500 ensiklopedia! Subhaanallaah….
Tapi sayangnya….. kebanyakan otak manusia hanya dipakai kurang
dari 1% dari kemampuannya yang sesungguhnya…..

Juga pada usia tertentu, otak akan memusnahkan sambungan (sinapsis)
yang jarang atau tidak pernah digunakan Para peneliti di Baylor
College of Medicine menemukan bahwa apabila anak-anak jarang diajak
bermain atau jarang disentuh perkembangan otaknya 20% atau 30%
lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu. Waduh, sayang
banget yah….
(Oleh J Madeleine Nash, Majalah Time, Edisi 3 Februari 1997)

Perbandingan sederhana otak yang jarang dirangsang dengan
otak yang sering dirangsang dapat dilihat di attachment.

Demikianlah bukti-bukti yang menunjukkan pentingnya pendidikan anak
sejak usia dini, karena ‘masa keemasan’ pertumbuhan otak anak ada
di usia itu. Sering kali orang tua sibuk menabung untuk bekal
kuliah anak berbelas tahun kemudian, tapi mengabaikan ‘tabungan’ di
masa-masa keemasan pertumbuhan intelektual ini.
Ada kecenderungan orang tua memasrahkan pendidikan anaknya ke
sekolah, dengan menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik sering
kali orang tua sedah merasa cukup. Padahal….

Ada tiga alasan kenapa pendidikan di sekolah saja tidak cukup…. :

1. Sistem pendidikan di sekolah kita masih berlandaskan konsep
materialisme. Ilmu pengetahuan dipelajari secara parsial, bertujuan
untuk menguasai dan mengeksploitasi sumberdaya alam. Sistem
pendidikan seperti ini, sangat bertolak belakang dengan tujuan
pendidikan sejati seperti yang dituntunkan dalam sistem pendidikan
Islam. Ilmu pengetahuan terintegrasi satu sama lain, menyeluruh,
dan ditujukan untuk memelihara alam (tugas khalifah) dan untuk
mengenal Allah….

2. Di sekolah, pencapaian anak diukur dengan angka-angka.
Kadang-kadang angka-angka itu tidak mencerminkan pencapaian anak
yang sesungguhnya. Bahkan seringkali angka-angka itu sama sekali
tidak membantu anak dalam menghadapi kehidupan nyata.

3. Di sekolah, seorang guru harus mengayomi sekian banyak murid.
Sehingga pendidikan yang diterapkan tidak memperhatikan keragaman
individu. Dengan sistem seperti ini, akan banyak potensi individu
yang tak terbangkitkan, bahkan terbungkam. Dengan orang tua sendiri
menjadi guru, pasti anak akan lebih terperhatikan, ya kan….

Bersyukurlah Anda yang mungkin menemukan sekolah yang ideal untuk
anaknya, tapi sayangnya sulit sekali mencari sekolah seperti itu.
Sekolah yang mahal pun tidak menjadi jaminan kualitasnya pasti
bagus. Tapi sekolah yang baik bisa kok dimulai dari rumah, caranya
juga sederhana. Yang pertama tentunya bermain, yang ke-dua…. Yap,
dengan membudayakan kegiatan membaca….!

Membaca adalah salah satu upaya terbaik untuk membantu perkembangan
otak anak :

1. Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia (dari
semua makhluk hidup di dunia ini cuma manusia lho yang bisa baca)

2. Membaca merupakan salah satu fungsi penting dalam hidup, hampir
semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.

3. Berkat kemajuan dalam penelitian otak, kita tahu bahwa membaca
cerita bagi anak mempunyai manfaat intelektual, emosional dan
fisik, yang dapat meningkatkan perkembangan anak.

4. Dengan tumbuh dan berkembangnya minat baca pada diri anak, minat
belajarnya pun akan menjadi tinggi. Sehingga kalau orangtua mampu
mengantarkan anaknya menjadi gemar membaca, maka anak akan mampu
belajar secara mandiri, orang tua ga usah marah-marah nyuruh
belajar jadinya….:-)

Beberapa cara meningkatkan minat baca anak :

1. Bacakan buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan).
2. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak
3. Ajak anak ke tempat yang ada di buku
4. Bacakan dengan ekspresi
5. Lakukan dengan kegiatan mendongeng.
6. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yg ada di sekitar kita
7. Beri kesempatan mengarang
8. Libatkan seluruh anggota keluarga
9. Ajak anak bereksperimen
10. Mulai dengan orangtua membaca
11. Hargai buku, berikan sebagai hadiah
12. Lakukan dengan gembira

Dengan demikian, buku adalah pilihan yang tepat, untuk merangsang
otak anak, agar terus bercabang-bercabang, dan teruuuuss
bercabang……
Ayo ah, orang Islam jangan ketinggalan melulu….. Bangun generasi
unggul sejak sekarang….

Posted by: anfuture | 1 September 2009

PARADIGMA ISLAM TENTANG PENDIDIKAN ANAK

PARADIGMA ISLAM TENTANG PENDIDIKAN ANAK

Dalam Al-Quran, keturunan adalah bagian yang penting dalam
melanjutkan misi kekhalifahan manusia di bumi. Pendidikan anak
merupakan tanggung jawab dan perhatian semua pihak, terutama para
orang tua dan pendidik.

Allah berfirman : “Hendaklah mereka takut kepada Allah jika
meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka, yang mereka
khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh karena itu, hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”
(QS Al-Nisa [4]:9)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan (atau fitnah bagimu). Di sisi Allah-lah pahala yang besar”
(QS Al-Taghabun [64]:15)

Dari Jabir bin Samurah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya
orang yang mendidik anaknya lebih baik daripada orang yang
bersedekah satu sha’ setiap hari (HR Al-Turmudzi).

Anak adalah amanah/titipan, salah satu cara mensyukuri anak adalah
orangtua berusaha mendidiknya dengan baik supaya menjadi generasi
yang berkualitas. Membangun manusia yang cerdas, kreatif, beriman,
bertaqwa dan berakhlak mulia tentu bukanlah tanpa proses, dan
proses menjadi manusia berkualitas tidak ada yang g.r.atis.
Proses pendidikan anak membutuhkan upaya dan biaya yang besar,
yaitu pengasuhan maksimal sejak bayi dan pendidikan yang optimal
sejak usia sekolah…..

Tags:

Posted by: anfuture | 27 Agustus 2009

Renungan Ramadhan Seorang Bocah

Bocah Misterius di kampung Ketapang,Tangerang

Bocah  itu  menjadi  pembicaraan dikampung Ketapang.
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir  keliling  kampung.
Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak  remaja diatasnya,
dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung  sungguh  menyebalkan.
Yah,  bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana
kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap  dengan  tetesan  air
dan butiran-butiran es yang melekat diplastik   es  tersebut.
Pemandangan  tersebut  menjadi  hal  biasa  bila orang-orang  kampung  melihatnya
bukan  pada  bulan puasa! Tapi ini justru terjadi  ditengah  hari  pada bulan puasa!
Bulan ketika banyak orang sedang menahan  lapar  dan haus.
Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari
semenjak  bocah  itu  ada,  matahari  dikampung  itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu.
Mereka tidak  berani  melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana
dengan  nikmatnya  ia  mencicipi  es  kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah  ada  yang  melarangnya,  tapi  orang itu kemudian dibuat mundur  ketakutan
sekaligus  keheranan.  Setiap  dilarang,  bocah itu akan mendengus  dan  matanya  akan
memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman  memutuskan  akan  menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan  ini,
setiap ba’da zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah  itu  akan  muncul  dengan  pakaian  lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin
dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga !

Tidak  lama  Luqman  menunggu, bocah itu datang lagi.
Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.
Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,  ya  itu  tadi,  bukannya  takut,
bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan  korek  keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu “bocah beneran”   pun,   ia  juga  akan  cari  keterangan,
siapa  dan  dari  mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman.
Luqman  pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan  membawanya ke rumah.
Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini?  Bukankah  ini  kepunyaan  saya?”
tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan  tahu  bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

“Maaf  ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,
“apalagi  kamu  tahu,  bukankah  seharusnya  kamu juga berpuasa?
Kamu bukannya  ikut  menahan  lapar  dan  haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu.
Tapi  mendadak  bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua!

Bukankah  kalian  yang  lebih  sering  melakukan hal ini ketimbang saya..?!
Kalian  selalu  mempertontonkan  kemewahan  ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada  sebelas  bulan  diluar  bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih   sering   melupakan  kami  yang  kelaparan,
dengan  menimbun  harta sebanyak-banyaknya  dan  melupakan  kami?  Bukankah kalian juga yang selalu
tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah   kalian  yang  selalu  berobat  mahal  bila  sedikit  saja  sakit menyerang,
sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian  menjemput  ajal..?!

Bukankah  juga  di  bulan  puasa  ini  hanya pergeseran  waktu  saja  bagi  kalian  untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug  maghrib  bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?”

Bocah  itu  terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk,
kini ia bersuara lirih, mengiba.

“Ketahuilah Tuan..,
kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa,
lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami  makan.
Sementara  Tuan  hanya  berpuasa  sepanjang  siang  saja.

Dan ketahuilah juga,
justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang  menyakiti  perasaan  kami
dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah  kalian  juga  yang  selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang  luar  biasa  bervariasi  banyaknya,
segala  rupa  ada, lantas kalian menyebutnya  denga  istilah  menyambut  Ramadhan  dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan
pun  hanya  ada  kepeduli an yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang  melupakan  kami,
kalianlah yang menggoda kami,
dua belas bulan tanpa terkecuali  termasuk  di  bulan  ramadhan  ini.
Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan..,  sadarkah  Tuan  akan  ketidakabadian  harta?
Lalu kenapakah kalian masih  saja  mendekap  harta  secara  berlebih?
Tuan..,  sadarkah apa yang terjadi  bila  Tuan  dan orang-orang sekeliling Tuan
tertawa sepanjang masa dan  melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta,
tapi juga pada  dosa  dan  maksiat.
Tahukah  Tuan  akan  adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan..,  jangan  merasa  aman  lantaran kaki masih menginjak bumi.
Tuan…, jangan  merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun,
jangan  pernah  merasa  matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…”

Wuahh…,  entahlah  apa  yang  ada di kepala dan hati Luqman.
Kalimat demi kalimat  meluncur  deras  dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan  hebatnya,  semua  yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal   ini  menambah  keyakinan  Luqman,  bahwa  bocah  ini  bukanlah  bocah sembarangan.
Setelah  berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu  saja
meninggalkan  Luqman  yang  dibuatnya  terbengong-bengong.
Di kejauhan,  Luqman  melihat  bocah  itu  menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar,  Luqman  berlari  mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung   Ketapang.
Ia  edarkan  pandangan  ke  seluruh  sudut  yang  bisa dilihatnya,  tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu,  ia  tanya  semua  orang  di ujung jalan,
tapi semuanya menggeleng bingung.
Bahkan,  orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku
tidak  melihat  bocah  itu  keluar  dari  rumah  Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius!
Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman  tidak  mau  main-main.  Segera ia putar langkah, balik ke rumah.
Ia ambil  sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional,
tidak masuk  akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja.
Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita  ingat.
Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah  tadi  juga  memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang  berada  diatas,
yang  sedang  mendapatkan  karunia  Allah,
jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada
dan  mempertontonkan  kemewahan  yang  berlebihan.
Marilah  berpikir tentang  dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus
menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman  berterima  kasih  kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar  biasa.
Luqman  tidak  mau  menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang  yang  ada  dipikirannya  sekarang , entah mau dipercaya orang  atau  tidak,
ia  akan  mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah  itu
sekaligus  menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang  yang  dikenalnya,
kepada sebanyak-banyaknya orang.. Kejadian bersama
bocah  tadi  begitu  berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan  itu  menjadi  pertemuan  yang  terakhir.  Sejak itu Luqman tidak pernah  lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Posted by: anfuture | 25 Agustus 2009

Renungankan

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya ( Aisyah RA ) yang tidak lain tidak bukan…

merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,

“Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”.

Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”.

“Apakah Itu ?”, tanya Abubakar RA.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana”, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu.

Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?”.
Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan! ….Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.

Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu
dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu ….. “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?

Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq
Rasulullah SAW ?

Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau ?

Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia- mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya bila kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai saja dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Posted by: anfuture | 2 Juli 2009

Berfikirlah Positif dan Jangan Mudah Menyerah

Kita adalah makhluk Allah yang paling lemah secara fisik.

Namun Allah dengan prinsip keadilan-Nya memberikan sebuah anugerah termahal yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain, yaitu kemampuan berfikir. Sangat disayangkan, tidak semua manusia memanfaatkan secara maksimal kemampuan yang satu ini untuk meraih prestasi sebesar-besarnya.

Shiv Khera dalam You Can Win, mengatakan,
“Jika anda berfikir Anda dikalahkan, maka Anda akan kalah.
Jika Anda berfikir Anda tidak takut, maka Anda tidak akan takut. Jika Anda ingin menang, tetapi merasa tidak mampu, hampir dapat dipastikan bahwa Anda tidak akan menang.
Jika Anda berfikir Anda merugi, maka Anda akan rugi.
Karena apa yang kita hadapi di dunia keberhasilanya berawal dari kemauan diri dan semuanya ada dalam pikiran kita.
Jika Anda berfikir Anda tidak berkelas, maka akan seperti itulah Anda.
Anda harus berfikir tinggi untuk dapat meraih.
Anda harus memiliki keyakinan diri sebelum Anda dapat meraih kemenangan.
Perjuangan hidup bukan selalu menjadi milik orang yang lebih kuat dan lebih cepat. Tetapi cepat atau lambat pemenangnya adalah orang yang berfikir bahwa ia mampu”.

Jauh sebelum Shiv Khera mengeluarkan pendapat tersebut,
Allah telah mengatakan “Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku”.
Tidak mudah merealisasikan apa yang ada dalam pikiran kita. Sehingga tak heran banyak yang akhirnya tidak mau berfikir betapa sesungguhnya hidup ini terlalu indah untuk kita buat sia-sia tanpa prestasi apapun.

Kebersihan hati mempengaruhi pikiran.
Jika hati kita bersih, pikiran kita akan positif menapaki setiap detik-detik kehidupan ini. Betapa indahnya bila kita senantiasa berfikir positif, hati kita bersih, bening, dan terawat dengan baik. Kita akan merasakan kesejukan, kedamaian, ketenangan, kemudian dunia ini kita jadikan sebagai ladang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya tanpa beban, permusuhan dan dendam.

Bila hati kita tertata dengan baik dan pikiran kita positif, kita tidak akan menjadi orang yang lemah, mudah menyerah, dan putus asa jika mengalami kegagalan.
Bangkit dan jangan mudah menyerah. Walaupun jalan yang kita lalui senantiasa menanjak dan berliku, tetaplah melangkah walaupun setapak demi setapak.
Percayalah cahaya terang itu tidak selamanya tertutup awan hitam, ia akan terhalau oleh kesabaran, ketekunan, dan keyakinan, hati yang bersih, serta berfikir positif kepada Zat yang jiwa kita ada dalam genggamannya.

Sumber: Eramuslim 28/8/2002

Posted by: anfuture | 30 Juni 2009

DAN MEREKAPUN LEBIH MEMAHAMI HAK ORANGLAIN ..

Siang ini 6 februari 2008, tepatnya di atas jembatan penyebrangan Setiabudi,
aku bertemu dua makhluk kecil, kumal, dan berbasuh keringat. Dua sosok kecil kira-kira delapan tahun usianya,
menenteng kantong hitam, saat ku menyebrang untuk makan siang, diujung jembatan mereka menawariku tisu. Ya, mereka menjual tisu.

Hanya tisu. Dengan keangkuhan khas penduduk jakarta, aku hanya berisyarat menolaknya tanpa ekspresi.
“Terima kasih om” ucap seseorang dari mereka menanggapi dinginya responku.
Ah, aku pun merasa belum menyadari akan kemuliaan mereka. Hanya sedikit ku buka senyumku seraya mengangguk kepala.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan,
ternyata seorang anak menyapa seorang laki-laki dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan,
laki-laki itupun menolak dengan tiada beda denganku.

Lagi, sayup-sayup ku dengar mereka berucap terima kasih. Kantong hitam tempat tisu dagangan mereka tetap
teronggok di sudut jembatan sedikit terbuka tertiup derai angin jakarta. Kulewati dengan lirikan ke dagangan mereka.
Dua-pertiganya terisi tisu putih berbalut plastik transparan. Dan aku pun berlalu tanpa goresan kesan.

Setengah jam berlalu, ku seberangi jembatan yang sama kembali. Kudapati mereka tengah mendapatkan pembeli, seorang wanita.
Senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

“Terima kasih ya Mbak… semuanya dua ribu lima ratus rupiah” tukas seorang dari mereka.
Si wanita tersebut mengulurkan uang sepuluh ribuan.

“Maaf, nggak ada kembaliannya. Ada uang pas nggak Mbak?” Mereka pun menyodorkan kembali uang tersebut.
Si wanita pun menggeleng. Sejurus, satu dari mereka menghampiriku. “Om, boleh tukar uang nggak, sepuluh ribuan?”.

Ah, suaranya mengingatkanku pada anak lelakiku yang seusia mereka. Aku pun terhenyak.
Ku rogoh saku celanaku, ku cari recehan, yang ku dapatkan hanya empat lembar uang seribuan kembalian dari food court.

“Nggak punya” jawabku.
“Ambil saja kembaliannya, dik!” seru si wanita sambil membalikkan badan dan meneruskan langkahnya ke timur.
Anak ini terkesiap, ia sambar uang empat ribuan di tanganku dan menyampaikan lembar sepuluh-ribuan ke genggamanku.
Aku masih berhenti, terdiam, bak kaki terpaku di tempatku berdiri.

Anak ini sontak mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu tadi.
Si wanita kaget. Setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa-apa ambil saja!”
“Maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”
Mereka berkeras mengembalikan uang tersebut hingga akhirnya uang itu pun diterima si wanita
karena si kecil segera pergi meninggalkannya.

Tinggallah sepotong episode antara aku dengan mereka. Uang sepuluh ribu di genggamanku tentu bukan sepenuhnya milikku.
Mereka pun menghampiriku seraya berujuar, “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”.

“Eeeh… nggak usah… biar aja… nih!” Aku pun mencoba ulurkan uang tersebut.
Ia pun menyambar dan berlari menuruni tangga curam jembatan ke kumpulan tukang ojek.
Ku teruskan langkahku, tetapi… “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu… sebentar…” Langkahku terhenti.
“Nggak apa-apa, itu buat kalian” Kataku menimpali.
“Jangan… jangan om. Itu uang Om sama Mbak yang tadi juga” kata anak itu bersikukuh pada pendiriannya.
“Sudah, … saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” Ku coba menanggapi.
Namun ia menghalangiku sejenak dan ia berlari ke ujung jembatan dan berteriak memanggil temannya untuk segera bergegas.
Secepat kilat, ia pun meraih kantong plastik hitam dagangannya dan berlari ke arahku kembali.

“Ini deh om, kalau kelamaan, maaf…” ia memberi saya delapan pak tisu.
“Buat apa?” Aku pun terbengong.
“Habis teman saya lama sih om, maaf, tukar pakai tisu aja dulu” tukasnya.
Aku pun berusaha untuk mengembalikan meski ia menolaknya.
Ku tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya.
Ah, aku kalah set. Ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik tersebut.

Beberapa saat aku mematung di sana, sampai temannya kembali dari menukar uang.
Diambil tisu tersebut dari tanganku seraya menukarnya dengan uang milikku, empat ribu rupiah.
“Terima kasih, om!…” Mereka pun kembali ke ujung jembatan. Sayup-sayup ku dengar percakapan di antara mereka.
“Duit mbak tadi gimana?”
“Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…”
Percakapan itu kemudian menghilang ditelan ramainya lalu-lintas Jakarta.
Aku pun terhenyak dan kembali ke kantor dengan beribu perasaan.
Ah, betapa mulia hati mereka di usia yang masih sangat muda…

Tuhan… kekuatan kepribadian mereka menaklukkan Jakarta membuatku terenyuh, mereka berbalut baju lusuh,
tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka mengetahui hak-hak orang lain dan mereka berusaha tidak meminta-minta.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, telah memiliki kemuliaan di usia mereka yang begitu belia.

Ku bandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita,
meski dalam rizki itu bisa jadi sebagian menjadi hak orang lain.

Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana.
Kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.

Posted by: anfuture | 30 Juni 2009

Sediakan Selalu Ruang Untuk Dibenci

Pasti.

Setiap diri kita ingin kesesuaian antara kenyataan dan harapan.
Kita mendambakan hidup bisa berjalan sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita;
bahagia, aman, dan disenangi semua orang. Tidak ada permusuhan dengan siapapun.
Tidak ingin dibenci. Tetapi sebaliknya, ingin dicintai dan disukai oleh semua orang
Tetapi kedua sisi yang berlawanan ini; cinta dan benci, ternyata tidak akan pernah bisa berpisah.
Ada yang mencintai kita tetapi ada juga yang membenci. Ada yang kita cinta dan ada juga yang kita benci.
Benci selalu lahir, karena ada banyak faktor yang tidak bisa kita hindari.

Tidak Ada Manusia yang Sempurna
Manusia memang diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan ciptaan Allah swt yang lain.
Namun manusia tetap memiliki serangkaian kekurangan dalam statusnya sebagai makhluk.
Tidak ada manusia yang sempurna, utuh, tanpa cela dan kekurangan.

Yang sempurna hanya Allah swt, Sang Pencipta. Dialah Pemilik kesempurnaan.
Dialah Dzat yang tanpa cela. Tanpa kekurangan. Tanpa kelemahan, dalam sifat, perbuatan, ketentuan,
dan hukum-Nya, sehingga Dia tidak layak dibenci oleh siapapun. Sedang manunia, umumnya adalah
makhluk yang mempunyai banyak kelemahan dan keterbatasan, dan Allah swt telah menegaskan sifat lemah mereka
di dalam Al Qur’an, di mana mereka sering mendapatkan dispensasi-dispensa si hukum karena sifat lemah itu.
Allah swt berfirman, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.”
(QS. An Nisa’: 28)

Sifat lemah manusia begitu jelas terlihat ketika mereka terkena musibah, atau tertimpa kesulitan,
di mana mereka cenderung suka berkeluh kesah. Karena Allah swt pun memang telah melengkapi kelemahan mereka
dengan sifat itu. Dia menegaskan, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”
(QS. Al Ma’arij: 19)

Manusia juga cenderung melakukan penyimpangan dan berlaku sombong, seperti disebutkan dalam ayat,
“(Orang yang membanggakan diri) yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan
menyembunyikan karunia ALlah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…”
(QS. An Nisa’: 37)

Ini hanya sedikit ayat yang menjelaskan dan membuktikan bahwa manusia memang memiliki banyak cela dan kekurangan.
Jika pun kita mendapati seseorang, yang menurut penilaian dan pandangan kita nyaris tak ada kekurangan,
mungkin karena kita belum banyak berinteraksi dengannya.

Jika misalnya, suatu saat kita punya kesempatan untuk hidup bersama dengan orang itu, di sana kita pasti akan
mendapati celah dalam dirinya kalau ternyata orang tersebut punya kekurangan. Kekurangan yang tidak tampak jika kita
hanya melihatnya sekilas saja.

Begitu juga sebaliknya, jika kita memberikan penilaian pada seseorang dengan predikat penuh kekurangan,
banyak kesalahan, barangkali di sisi lain Allah swt telah membekalinya dengan serangkaian kelebihan,
yang mungkin saja melampaui kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita.

Maka, kalau kita menyadari ini, sangatlah pantas jika kita selalu menyediakan ruang dalam hati kita untuk dibenci,
karena kita pun bukan manusia sempurna. Banyak kekurangan pada diri kita, yang mungkin saja akan
tidak disukai oleh orang lain.

Keberagaman itu Sangat Indah
Di sebuah taman yang indah, akan kita temukan bunga-bunga dari jenis yang beragam, warna-warna yang berbeda,
serta bentuk dan aroma yang berlainan. Bunga-bunga itu, meski tumbuh di atas tanah yang sama,
disirami dari air hujan yang sama, disinari dari cahaya matahari yang sama, tetapi tak satupun yang sama.
Bunga-bunga itu tumbuh beragam, dan ternyata keragaman itulah yang telah menciptakan keindahan di taman itu.
Keragaman itulah yang telah menghadirkan keharmonisan. Keragaman itu pula yang selalu memberi daya tarik
kepada kita untuk selalu menikmatinya.

Andaikan saja bunga-bunga itu, hanya memancarkan aroma yang sama, buah, daun, dan dahannya dari jenis dan warna
yang serupa, tentu keindahannya akan berkurang. Membosankan dan menjemukan.
Dan mungkin tak akan kita lihat orang-orang yang selalu menggunjinginya.

Bukan hanya bunga-bunga, tapi juga Allah swt menciptakan manusia dengan keragaman bentuk badan, paras wajah, kepribadian.
Semuanya tidak ada yang sama, sekali pun dua anak kembar yang lahir dari satu sel.
Subhanallah. ada yang berparas ayu, manis, bahkan sangat cantik. Tetapi ada juga yang berwajah sedang, dan tidak ayu.
Ada lelaki yang bertubuh besar, tinggi, kekar, atau gadis yang anggun dan tinggi semampai.
Tetapi ada juga yang kurus dan kerdil.

Di kehidupan nyata, kita juga menemukan banyak keberagaman. Ada keragaman berpikir, keragaman pandangan, keragaman kesenangan,
tabiat dan prilaku. Semua keragaman itu telah melahirkan keagungan, keindahan, keserasian dan kesempurnaan yang
tiada tara. Kita menjadi saling membutuhkan karena keberagaman itu. Tapi juga ada yang membenci karena kita tidak seperti
yang dia inginkan.

Keragaman itu adalah bagian dari fitrah penciptaan dan fitrah keindahan.
Allah swt berfirman, “Sungguh, usahamu memang beraneka ragam.”
(QS. Al-Lail: 4)

Keragaman itulah yang melahirkan keindahan. Keserasian. Dan keharmonisan. Maka menghendaki atau
memaksakan satu keinginan saja, sama artinya kita menolak keharmonisan, dan hanya menebar kebencia.
Kebencian selalu ada, selagi ada yang menghendaki kesamaan. Namun, hanya Allah yang mampu mempersatukan
dan menyeragamkan, sebagaimana firman-Nya, “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka,
akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Anfal: 63)

Karena itu, kita harus selalu menyediakan ruang untuk dibenci karena kita memang beragam.

Memahami Latar Belakang Setiap Orang
Kesalahan kita memahami orang lain, atau kesalahan orang lain memahami kita seringkali berawal dari
kesalahan memahami latar belakang. Padahal, latar belakang punya peran membentuk pola pikir, cara pandang,
karakter, kepribadian dan pendirian seseorang.

Perbedaan latar belakang ini sering membuat orang lain tidak mudah menerima kita.
Perbedaan latar belakang kerap menjadikan sebuah maksud baik tidak berbalas.
Kadang, perbedaan latar belakang menjadi penyebab lahirnya kebencian.

Lihatlah, betapa dakwah Rasulullah saw ketika berhadapan dengan orang-orang kafir Quraisy seakan menghadapi
tembok yang kokoh. Perlawanan, hinaan dan dan penyiksaan setiap saat beliau terima.
Bukan karena mereka tidak percaya dengan kebenaran yang dibawa oleh beliau, melainkan karena meraka adalah
golongan bangsawan dan pewaris keyakinan nenek moyang yang penyembah berhala. Mereka merasa dikecilkan jika
harus mengikuti agama baru yang bernama Islam, yang ajarannya sangat bertentangan dengan kebiasaan mereka di masa lalu.

Di mana-mana Rasulullah saw selalu mendapatkan perlakukan kasar. Di Thaif, misalnya, beliau bahkan
dilempari dengan batu hingga tubuhnya penuh luka dan bercucuran darah. Melihat penyiksaan itu,
malaikat pun menawarkan diri untuk menimpakan gunung kepada orang-orang kafir.
Namun beliau saw menolaknya dengan mengatakan, “Jangan, karena mereka tidak tahu.”

Beliau juga pernah diboikot oleh orang-orang Quraisy selama tiga tahun, sehingga beliau dan sahabatnya
hanya bisa memakan daun-daunan untuk mempertahankan diri dari kelaparan dan kematian. Tetapi beliau tidak pernah dendam.

Latar belakang mereka ini sangat dimengerti oleh Rasulullah saw, sehingga walaupun dakwah beliau selalu
dibalas dengan kebencian beliau tidak pernah balik membenci. Beliau bersabar, meskipun cercaan dan
intimidasi tidak pernah berkurang. Bahkan dalam kesabaran itu beliau mendoakan,
“Wahai Rabbku, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka hanyalah kaum yang belum mengetahui…”.
Beliau saw telah memberikan contoh cara membalas kebencian yang sangat indah; memaafkan dan mendoakan.

Salah memahami latar belakang seringkali menjadi kendala ketika kita mengemban misi, menyampaikan sebuah kebenaran,
ide ataupun gagasan. Selalu ada prasangka yang tidak baik dari banyak orang.
Dan ini dipahami Imam Malik ketika ia telah selesai menuliskan kitabnya Al Muwaththa’,
dan banyak orang yang kagum dengan isinya yang sangat baik. Termasuk khalifah yang berkuasa saat itu.
Sang khalifah bahkan mengusulkan kepada Imam Malik agar kitab tersebut dijadikan pegangan seluruh umat Islam.
Namun Imam Malik menolak dan berkata,
“Jangan, sebab banyak orang yang berbeda latar belakang pemahaman agamanya.
Mengharuskan mereka mengambil kitab ini sama saja dengan pemaksaan dan menebar fitnah.”

Kesalahpahaman di antara kita, yang kemudian melahirkan kecurigaan dan kebencian akan selalu ada karena kita
memang saling berbeda latar belakang.

Kepuasan Manusia adalah Pemenuhan yang tak Berujung
Disukai banyak orang tentu sebuah kenikmatan. Karena kita akan merasa nyaman,
tenang dan aman bersama mereka. Bebas dari makarnya, jauh dari kebenciannya, dan dekat dari persahabatannya.
Sebab itulah kita selalu berusaha menyenangkan hati setiap orang yang kita kenal atau yang tidak kita kenal;
menjaga perilaku, ucapan, perasaan, sikap dan sifat yang tidak disukai.

Tetapi, apakah itu bisa?
Menyenangkan hati semua orang barangkali merupakan hal yang nyaris mustahil dicapai.
Sekuat apapun usaha yang kita lakukan. Senyata apapun kebenaran yang kita sampaikan.
Dan sejelas apapun persoalan yang kita utarakan. Sebab setiap manusia memiliki selera yang berbeda,
emosi yang tidak sama, dan tingkat pengetahuan yang beragam, serta dua madzhab yang selalu berlawanan;
hak dan batil. Jika kita bermadzhab pada yang hak, maka orang yang tidak baik pasti benci kita.
Dan jika kita bermadzhab pada yang batil, tentu orang yang baik pasti akan menjauhi kita.
Sebab keburukan dan kebaikan, selamanya pasti tidak akan berdamai.

Sepanjang sejarah manusia, para penyeru kebenaran selalu mendapatkan musuh-musuh besar yang membencinya.
Pun para dajjal, mereka mendapat perlawanan dari para pahlawan pembela kebenaran. Jadi, di belahan sisi
manapun kita berdiri pasti akan menjumpai orang yang tidak suka dengan kita. Karena itu,
menyenangkan semua orang tentulah sangat sulit dilakukan. Tetapi kita tentu juga tidak boleh berdiri di atas
dua sisi itu hanya karena ingin menghilangkan kebencian. Karena sikap seperti ini hanya akan mengaburkan jati diri,
merusak kehormatan, dan merendahkan martabat kita sebagai manusia. Kehormatan itu akan kokoh jika kita tetap berdiri
di sisi kebenaran.

Luqman Al Hakim, suatu hari menasehati anaknya untuk tidak menggantungkan hatinya pada kepuasan dan ridha manusia.
Sebab, katanya, kepuasan dan keridhaan manusia pasti sulit dicapai. Dan untuk membuktikan hal ini kepada anaknya,
Luqman pun mengajaknya ke luar rumah, berjalan-jalan di keramaian manusia, sembari membawa keledai tunggangannya.

Saat keluar di jalan raya, Luqman menunggangin keledai tersebut dan membiarkan anaknya berjalan kaki di belakangnya.
Ketika melintasi sekelompok orang, Luqman dan anaknya mendengar mereka berkata,
“Lihatlah lelaki tua itu. Betapa keras hatinya dan betapa tidak punya belas kasih kepada anaknya.
Bagaimana dia tega menunggangi keledai sementara membiarkan anaknya berjalan kaki di belakang.”
Luqman pun turun dan menyuruh anaknya menaiki pelana keledai. Ketika melewati sekelompok orang yang lain,
keduanya lagi-lagi mendengar obrolan orang-orang itu tentang diri mereka,
“Perhatikan anak dan bapak itu. Si bapak tentu tidak pernah mendidik anaknya dengan baik sehingga anaknya
tidak bisa menghormati dan mengasihi bapaknya.”
Anaknya pun turun dari punggung keledai, lalu berjalan bersama bapaknya di belakang keledai,
tetapi orang-orang yang mereka lewati masih terus berkomentar,
“Aneh sekali dua lelaki ini. Mereka biarkan keledainya berjalan sementara mereka mengikuti dari belakang.”
Akhirnya, mereka berdua menaiki keledai tersebut.
Namun begitu melewati kerumanan yang lain, komentar miring pun terdengar,
“Lihatlah kedua orang itu. Mereka benar-benar tidak punya belas kasihan pada binatang.
Mereka menyiksannya dengan menaikinya bersama-sama, padahal badan mereka begitu besar.”
Pada riwayat lain tentang kisah ini menyebutkan, Luqman dan anaknya kemudian turun dari keledainya,
lalu mengikat dan memikulnya secara bersama-sama, sehingga semua orang yang melihatnya tertawa
dan menganggap mereka sudah gila.

Realita kehidupan kita memang tidak pernah menyediakan ruang bebas cela.
Karenanya, sebelum kita mendapati cela itu sediakan selalu ruang di hati kita untuk dicela.

Mengurangi Kesalahan dan Dosa
Ajaran Islam itu ada yang bersifat anjuran dan larangan, ada pula yang bersifat penerimaan.
Kita dianjurkan untuk memperbanyak amal dengan melakukan hal-hal yang baik, seperti memberi, tersenyum,
menolong dan menyenangkan orang lain. Di sisi yang berbeda, ada larangan-larangan yang harus kita tinggalkan seperti,
hasad, iri, menyakiti dan semua perbuatan yang bisa merugikan dan berdampak negative.

Namun di luar itu, Islam mengajarkan kita untuk juga bisa menerima, seperti ketika kita tertimpa musibah,
dicaci, dikucilkan, dan dibenci. Penerimaan ini punya tujuan yang sama dengan ajaran yang bersifat anjuran maupun larangan;
mendapatkan pahala, ampunan, dan kasih sayang dari Allah swt, serta pengurangan dosa dan kesalahan.

Penerimaan itu maksudnya adalah menjalani sesuatu itu dengan ikhlas, sabar, dan tabah,
dengan keyakinan bahwa Allah Maha Tahu tentang diri kita dan kualitas kita, tentang sesuatu yang disangkakan
buruk oleh orang lian dari diri kita. Penerimaan itu adalah merelakan orang lain melakukan kebenciannya dengan
tidak melakukan hal yang serupa kepada orang tersebut, dengan harapan mudah-mudahan kebencian itu dapat mengurangi kesalahan
kita, menghapus sebagaian dosa-dosa kita, dan lebih dekat dengan Allah swt.
Sebab, seperti dijelaskan Rasulullah saw bahwa seorang hamba yang terzhalimi tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah swt.

Menerima tidaklah semudah melakukan anjuran atau meniggalkan larangan. Orang yang dibenci tentu selalu punya emosi untuk balik membalas.
Orang yang dicaci punya hasrat untuk kembali menyerang. Karena itu, penerimaan lebih kuat pada aspek pengendalian diri,
dan karenanya pula Allah murka kepada orang-orang yang tidak sanggup menerima ketika Dia mengharuskan mereka menerima.
Dalam sebuah hadists Qudsi, Allah berfirman, “Dan siapa yang tidak sanggup bersabar menerima ujian-Ku,
maka hendaklah dia keluar dari kolong langit-Ku, dan hendaklah dia encari tuhan selain diri-Ku.”

Kebencian orang lain pada kita membutuhkan penerimaan yang tulus , ikhlas dan sabar.
Bukan penerimaan yang direkayasa. Bukan penerimaan yang sengaja diciptakan, dengan membuat kita agar
kita mendapatkan kebaikan dari perlakukan buruk mereka. Bukan itu.

Memadamkan apa benci tidaklah mudah. Karena itu, di hati kita harus selalu ada ruang yang tersedia untuk menerimanya.
Tetapi yang lebih penting setelah itu, kebencian itu kita hapuskan dengan maaf,
karena sikap itulah yang akan mengantarkan kita kepada surga-Nya Allah swt, seperti lelaki yang
disebut Rasulullah saw sebagai ahli surga, yang ternyata terbiasa menghapus kebencian dari hatinya kepada siapa saja,
sebelum ia tidur malam.

Disadur dari Majalah Tarbawi edisi206 Th 10. Jun 09.

Posted by: anfuture | 30 Juni 2009

8 Kebohongan Ibu

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan
yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.
Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita
dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.
Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku.
Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”
KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing
di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang
yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan.
Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa
sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.
Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil
dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.
Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.”
Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian.
Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku
di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai,
Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku.
Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum.
Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu.
Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.
Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat
rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil.
Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara,
seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.
Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja,
ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun.
Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan
sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut.
Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas
ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan.
Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi,
aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang
untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi.
Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.
Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini.
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan”
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “ Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
Dan Semoga dapat menjadikan nasehat dan bermanfaat untuk kita semua. Amin

Posted by: anfuture | 29 Juni 2009

Hadiah Cinta Dari Ibunda

“Bisa saya melihat bayi saya?”
pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.
Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan
ia membuka selimut yang membungkus
wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.

Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit.
Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah daun telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini
telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah
dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis.
Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.
Anak lelaki itu terisak-isak berkata,
“Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya.
Ia pun disukai teman-teman sekolahnya.
Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan
menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.
Ibunya mengingatkan, “Nanti kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain”
Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter
yang bisa mencangkokkan telinga untuknya.
“Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.
Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan
telinganya,” kata dokter.
Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa
yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka
memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin
dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu.
Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan
operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru
pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah
menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan
dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pu menikah
dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa
yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku.
Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas
kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan
bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan
telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
“Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu
untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan
rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.
Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti
jenazah ibunya yang baru saja meninggal.
Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut
jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah ..
bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata
bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,”
bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa
ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan
tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak
terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa
yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak
pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun
pada apa yang telah dikerjakan tapi tidak diketahui.

Posted by: anfuture | 29 Juni 2009

Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

Baca dan Renungkan

Aku tidak tahu dimana berada.
Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku,
namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan.
Aku masih bertanya dan terus bertanya,
tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan.
Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi,
tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku.
“Inilah yang disebut Padang Mahsyar,” suaranya begitu menggetarkan jiwaku.
“Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,” batinku.
Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema.
Aku baru sadar, inilah hari penentuan,
hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia.
Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya,
surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut.
Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia.
Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan ………

Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan.
Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan,
bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah.
Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu,
mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan.
Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah.
“Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku,” pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan.
Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu,
mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku.
Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas,
sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk.
Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun.
Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga,
diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut.
Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam.
Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat
dimana Allah akan membuka tabirnya.
Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah.
Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga
sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah.
Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran.
Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari
untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar.
Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan.
Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

“Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku,” aku terperangah melihatnya melenggang ke surga.
Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita,
bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kirimkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya.
Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan.
Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi,
“Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.”
Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak,
pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata “maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku.
Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan,
“Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.”

Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga.
Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah.
“Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan.
Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara,” jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil.
Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang.
Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil.
Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata,
“Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain,
banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu.”

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya.
Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara.
“Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah,
shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan,
dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu,”
bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim,
Parmin,
mbok Darmi,
pengemis tua,
murid-murid pengajian,
jamaah masjid
dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku,
mereka lebih dulu ke surga Allah.
Padahal, aku sering beranggapan,
surga adalah balasan yang pantas untukku
atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya.
Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka,
tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka,
tidak lebih bersih hati dari pada mereka,
sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka
.

Termasuk Manakah Anda ?

Jam dinding berdentang tiga kali.
Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah  ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.

Posted by: anfuture | 26 Juni 2009

Untuk semua yang pernah merasakan “cinta” ….

Cinta itu seperti kupu-kupu.  
Tambah dikejar, tambah lari.
Tapi kalau dibiarkan terbang,
dia akan datang disaat kamu tidak mengharapkannya.

Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih,
tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang “terbaik”.

Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.

Jangan pernah bilang “I love you” kalau kamu tidak perduli.
Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada.
Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya.
Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong.
Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta,
sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya…

Cinta itu …
Bukan “Ini salah kamu”, tapi “Ma’afkan aku”.
Bukan “Kamu dimana sih?”, tapi “Aku disini”.
Bukan “Gimana sih kamu?”, tapi “Aku ngerti kok”.
Bukan “Coba kamu gak kayak gini”,
tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.

Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur
berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama
maupun berapa sering kalian bersama,
tapi apakah selama kalian bersama,
kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan.
Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.

Caranya jatuh cinta:
Jatuh tapi jangan terhuyung-huyung,
konsisten tapi jangan memaksa,
berbagi dan jangan bersikap tidak adil,
mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut,
sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.

Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit
lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu.

Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang
dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu
dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya.
Kalau dia tidak “worth it” sekarang, dia tidak akan pernah “worth it” setahun lagi ataupun 10 tahun lagi.
Biarkan dia pergi…

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti,
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita
dalam proses pencarian itu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan
bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian
menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

“Doing what you like is freedom. Liking what you do is happiness.”

Posted by: anfuture | 26 Juni 2009

Luaskan Hati

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet.
Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua
yang bijak mendengarkan dengan seksama.
Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air.
Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.
“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, ujar Pak tua itu.
Asin. Asin sekali, jawab sang pemuda itu, sambil meludah kesamping”.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal beliau.
Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
“Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu,
Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?” “Segar,” sahut sang pemuda.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi. “Tidak,” jawab si anak muda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
“Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi,
tak lebih dan tak kurang.
Jumlah garam yang kutaburkan sama,
tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda.
Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini,
akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua akan tergantung pada hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,
hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Beliau melanjutkan nasehatnya. “Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu
dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Posted by: anfuture | 26 Juni 2009

Apakah Anda Sadar?

Apakah Anda Sadar?

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita. Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan. Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lain! nya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya. Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia. Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih ind

Posted by: anfuture | 26 Juni 2009

IBU

Aku lahir dari perut ibu.. (bukan kata org…memang BENARKAN !!!…. ..)
Bila dahaga, yang susukan aku…..ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku……ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. .ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut….Ibu
Bila bangun tidur, aku cari….ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang ….ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati….ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah….ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya….ibu
Bila nakal, yang memarahi aku….ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma….ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah….ibu
Bila takut, yang menenangkan aku….ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk….ibu

Aku selalu teringatkan ….ibu
Bila sedih, aku mesti telepon….ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu…. .ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada..ibu
Bila takut, aku selalu panggil….. “ibuuuuu! ”
Bila sakit, orang paling risau adalah….ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga….ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku….ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau…. ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku. …ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu memberi bekal……ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku….ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku….ibu
Yang selalu memuji aku….ibu
Yang selalu menasihati aku….ibu
Bila ingin menikah..
Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ….ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri….
Bila senang, aku cari…..pasanganku
Bila sedih, aku cari….ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada….pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada….ibu
Bila bahagia, aku peluk erat…..pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat…..ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa….pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah….ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu…aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat… aku akan telepon pasanganku
Entah kapan… aku ingin telepon ibu
Selalu…aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan… aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan:
“Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja…. masih ingatkah kau pada ibu?
tidak banyak yang ibu inginkan… hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya. …….
Tapi kalau ibu sudah tiada……. …
IBUUUU…RINDU IBU…. RINDU SEKALI….
Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya….
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya……
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya…..
dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH bunya……

Posted by: anfuture | 12 Maret 2009

Just Live

My live…
Hidupku..

hhhmmmm…..
hidupku seperti hari2 yang biasa aku lewati…
hehehee…..

Please comment about your live…

Categories